Cover tidak tersedia
Judul
Kesaksian Peristiwa Tanjung Priok tragedi yang tidak perlu
Pengarang
Widjiono Wasis
No. Panggil
364
Penerbit
Jakarta
Tahun
2003
Subjek

Metadata Lengkap

041Kode Bahasa Indonesia
082No. Panggil DDC 364
100Entri Utama Nama orang 21147
245Judul Utama Kesaksian Peristiwa Tanjung Priok tragedi yang tidak perlu
250Edisi dan Cetakan ke I
260aTempat Terbit Jakarta
260bPenerbit Balai Pustaka
260cTahun Terbit 2003
300Deskripsi Fisik v, 221 hal. 20 cm
490Seri
500Catatan Umum
504Catatan Bibliografi
520Abstrak Berang campuh itu sudah terjadi. Seseorang menikam yang lain. Seorang lagi menggigit, menggulung dan membanting lawannya hingga ke ujung aspal. Cucuran darah tak lagi terasa. Pertarungan hidup mati, taruhannya. Peristiwa itu terjadi pada malam Rabu Pon, 12 September 1984, di ujung jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, antara pengunjuk rasa dan aparat yang menghadangnya. Beberapa pengunjuk rasa berusaha merebut senjata aparat hingga terpental. Seorang berseragam, nyaris batok kepalanya dicucuk celurit oleh pengunjuk yang lain. Beruntung, orang yang berseragam itu segera berkelit ke kiri dan ke kanan, kemudian loncat mundur mundur dan terhindarlah dari mara bahaya.
inilah ganbaran nyata dari tragedi yang menumpahkan darah orang-orang yang kemungkinan sebagian besar tak mengerti masalah, ketika luapan amarah tak lagi terpelihara. Dalam kondisi campuh seperti itu, siapa pun bisa terluka, bahkan siapa pun bisa kehilangan nyawa, termaksud aparat, sekalipun mereka berbekal senjata.
Tragedi Tanjung Priok adalah buah dari amarah yang tak terkendali dan buah dari kekecewaan yang meruntuhkan harga diri. Atas nama agama, orang bisa melakukan apa saja, termasuk mencaci, menghina, mengajak perang, menumpahkan darah. Orang hanya melihat bahwa segala sesuatu yang dilakukan menjadi jihad dan mati adalah harga yang harus dipersembahkan untuk menyongsong bidadari di surga sana
528Abstrak Bahasa Lain
536Sumber Pengadaan
590Sumber Koleksi
650Subjek Topik
653Kata Kunci
700Entri Tambahan Nama Orang
700cPeran Entri Tambahan Nama Orang
850Lembaga Pemilik STIK PTIK
852Lokasi lantai 2
902Harga
904Status Koleksi

Eksemplar / Ketersediaan

No. Panggil No. Induk Barcode Status
364 1.319/04 TERSEDIA

Abstrak

Berang campuh itu sudah terjadi. Seseorang menikam yang lain. Seorang lagi menggigit, menggulung dan membanting lawannya hingga ke ujung aspal. Cucuran darah tak lagi terasa. Pertarungan hidup mati, taruhannya. Peristiwa itu terjadi pada malam Rabu Pon, 12 September 1984, di ujung jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, antara pengunjuk rasa dan aparat yang menghadangnya. Beberapa pengunjuk rasa berusaha merebut senjata aparat hingga terpental. Seorang berseragam, nyaris batok kepalanya dicucuk celurit oleh pengunjuk yang lain. Beruntung, orang yang berseragam itu segera berkelit ke kiri dan ke kanan, kemudian loncat mundur mundur dan terhindarlah dari mara bahaya. inilah ganbaran nyata dari tragedi yang menumpahkan darah orang-orang yang kemungkinan sebagian besar tak mengerti masalah, ketika luapan amarah tak lagi terpelihara. Dalam kondisi campuh seperti itu, siapa pun bisa terluka, bahkan siapa pun bisa kehilangan nyawa, termaksud aparat, sekalipun mereka berbekal senjata. Tragedi Tanjung Priok adalah buah dari amarah yang tak terkendali dan buah dari kekecewaan yang meruntuhkan harga diri. Atas nama agama, orang bisa melakukan apa saja, termasuk mencaci, menghina, mengajak perang, menumpahkan darah. Orang hanya melihat bahwa segala sesuatu yang dilakukan menjadi jihad dan mati adalah harga yang harus dipersembahkan untuk menyongsong bidadari di surga sana
Login untuk reservasi, review, dan file digital khusus anggota.

QR Koleksi

QR Koleksi
Pindai untuk membuka halaman koleksi ini.

Sitasi Cepat

APA
21147. (2003). Kesaksian Peristiwa Tanjung Priok tragedi yang tidak perlu. Jakarta : Balai Pustaka
Format lainnya

Review Disetujui

Belum ada review.