Cover tidak tersedia
- Judul
- Keteraturan sosial pedagang kakilima di pasar inpres Senen Jakarta Pusat
- Pengarang
- Matuani Sormin
- No. Panggil
- T2-99-018
- Penerbit
- UI-KIK
- Tahun
- 1999
- Subjek
- 31416
Metadata Lengkap
| 090No. Panggil Setempat | T2-99-018 |
|---|---|
| 100Entri Utama Nama orang | 31417 |
| 245Judul Utama | Keteraturan sosial pedagang kakilima di pasar inpres Senen Jakarta Pusat |
| 100aNo. Mahasiswa | |
| 260aTempat Terbit | Jakarta |
| 260bPenerbit | UI-KIK |
| 260cTahun Terbit | 1999 |
| 300Deskripsi Fisik | x, 201 hlm.: 28 cm |
| 504Catatan Bibliografi | |
| 520Abstrak | Salah satu dari khas dan perekonomian negara dunia ketiga termasuk Indonesia adalah adanya perbedaan yang mencolok antara sektor formal dan sektor informal, seperti kemampuan untuk menampung tenaga kerja dan perlindungan hukum. Sektor inforral sangat banyak menyerap tenaga kerja yang tidak tertampung pada sektor formal, akan tetapi sering dilupakan bahkan terpinggirkan, dalam kebijakan perekonomian nasional, padahal keberadaan sektor informal sering disebut oleh para ahli dan pengamat ekonomi sebagai katup pengaman atau bumper sistem perekonomian nasiona!, karena merupakan bagian dan keseluruhan sistem perekonomian nasianal_ Demikian juga halnya dengan kota Jakarta, seperti kota-kota besar lainnya dengan tingkat pengangguran yang besar, lapangan pekerjaan yang tersedia sangat terbatas, menjadikan pekerjaan di sektor informal sebagai pilihan altematif dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidupnya, untuk menjadi Iebih layak, beradab dan lebih baik. Hal ini disebabkan karena pekerjaan sektor informal tidak memerlukan persyaratan-persyaratan khusus dan mudah untuk dimasuki oleh siapa saja, dengan modal usaha yang relatif kecil, rnenjadikan sektor informal dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar. Sektor formal hanyalah istilah penggolongan dari beberapa jenis pekerjaan yang menggunakan modal usaha yang kecil sepeti pedagang kakilima, tukang becak, buruh bangunan, pedagang makanan dan lain-lain. Akan tetapi pedagang kakilima lebih sering diidenlikkan sebagai sektor informal karena jenis pekerjaan ini sangat banyak dijumpai dikota besar dan dianggap menjadi penyebab ketidaktertiban,. Kehadiran pedagang kakilima menimbulkan berbagai masalah dilematis yang disatu pihak sebagai pekerjaan alternatif yang dapat menampung angkatan kerja dalem. jumlah banyak , s.edangkan dipihak lain dltuding sebagai penyebab kemacetan dan kesemrawutan Ialulintas dan sangat menganggu kebersihan dan kenyamanan kota. Sehingga pedagang kakilima menjadi sasaran yang harus dibersihkan atau ditertibkan. Tindakan penertiban ini dilakukan dalam bentuk tindakan represif seperti penggusuran atau penyitaan terhadap bararig pedagang kakilima. |
| 528Abstrak Bahasa Lain | |
| 650Subjek Topik | 31416 |
| 653Kata Kunci | |
| 700Entri Tambahan Nama Orang | |
| 700cPeran Entri Tambahan Nama Orang | |
| 850Lembaga Pemilik | |
| 852Lokasi |
Eksemplar / Ketersediaan
| No. Panggil | No. Induk | Barcode | Status |
|---|---|---|---|
| T2-99-018 | T2-99-018 | TERSEDIA |
Abstrak
Salah satu dari khas dan perekonomian negara dunia ketiga termasuk Indonesia adalah adanya perbedaan yang mencolok antara sektor formal dan sektor informal, seperti kemampuan untuk menampung tenaga kerja dan perlindungan hukum. Sektor inforral sangat banyak menyerap tenaga kerja yang tidak tertampung pada sektor formal, akan tetapi sering dilupakan bahkan terpinggirkan, dalam kebijakan perekonomian nasional, padahal keberadaan sektor informal sering disebut oleh para ahli dan pengamat ekonomi sebagai katup pengaman atau bumper sistem perekonomian nasiona!, karena merupakan bagian dan keseluruhan sistem perekonomian nasianal_
Demikian juga halnya dengan kota Jakarta, seperti kota-kota besar lainnya dengan tingkat pengangguran yang besar, lapangan pekerjaan yang tersedia sangat terbatas, menjadikan pekerjaan di sektor informal sebagai pilihan altematif dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidupnya, untuk menjadi Iebih layak, beradab dan lebih baik. Hal ini disebabkan karena pekerjaan sektor informal tidak memerlukan persyaratan-persyaratan khusus dan mudah untuk dimasuki oleh siapa saja, dengan modal usaha yang relatif kecil, rnenjadikan sektor informal dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar.
Sektor formal hanyalah istilah penggolongan dari beberapa jenis pekerjaan yang menggunakan modal usaha yang kecil sepeti pedagang kakilima, tukang becak, buruh bangunan, pedagang makanan dan lain-lain. Akan tetapi pedagang kakilima lebih sering diidenlikkan sebagai sektor informal karena jenis pekerjaan ini sangat banyak dijumpai dikota besar dan dianggap menjadi penyebab ketidaktertiban,.
Kehadiran pedagang kakilima menimbulkan berbagai masalah dilematis yang disatu pihak sebagai pekerjaan alternatif yang dapat menampung angkatan kerja dalem. jumlah banyak , s.edangkan dipihak lain dltuding sebagai penyebab kemacetan dan kesemrawutan Ialulintas dan sangat menganggu kebersihan dan kenyamanan kota. Sehingga pedagang kakilima menjadi sasaran yang harus dibersihkan atau ditertibkan. Tindakan penertiban ini dilakukan dalam bentuk tindakan represif seperti penggusuran atau penyitaan terhadap bararig pedagang kakilima.
File Digital
T2-99-018.pdf
36814-T2-99-018.pdf
Mode akses kosong: guest hanya melihat nama file seperti loader.jsp legacy.
Login untuk reservasi, review, dan file digital khusus anggota.
QR Koleksi
Pindai untuk membuka halaman koleksi ini.
Sitasi Cepat
APA
31417. (1999). Keteraturan sosial pedagang kakilima di pasar inpres Senen Jakarta Pusat. Jakarta : UI-KIK
Format lainnya
Review Disetujui
Belum ada review.