DINAMIKA KONFLIK PERGURUAN SILAT SETIA HATI TERATE DI JAWA TIMUR MELALUI METASINTESIS KUALITATIF ATAS POTENSI DISRUPSI SOSIAL TERHADAP KEAMANAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT
| Nama Orang : | RERE CIKA IHZA PAMESTI |
| Penerbitan : | Jakarta : STIK LEMDIKLAT POLRI, 2026 |
| Bahasa : | Indonesia |
| Deksipsi Fisik : | |
| Catatan Umum : | |
| Lembaga Pemilik : | Perpustakaan STIK |
| Lokasi : | Lantai 3 |
| No. Panggil | No. Barkod | Ketersediaan |
|---|---|---|
| 16-26-68763907 | TERSEDIA |
| Ulasan: |
| Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 60781 |
Penelitian ini mengkaji endemi konflik komunal antar-perguruan silat di Jawa Timur yang berfokus pada perguruan silat setia hati terate yang memicu disrupsi sosial dan mengancam pemeliharaan Harkamtibmas. Tujuannya adalah mengurai akar kultural penyebab eskalasi konflik dan mengevaluasi hambatan strategi pemolisian di lapangan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis metasintesis kualitatif terhadap 30 literatur utama (2020-2025). Menggunakan Teori Konflik, Teori Evidence-Based Policy, Konsep Systematic Review, Konsep Metasintesis Kualitatif, Konsep Disrupsi Sosial dan Konsep Harkamtibmas. Data diekstraksi, dievaluasi menggunakan instrumen Critical Appraisal Skills Programme (CASP), lalu dianalisis dengan teknik sintesis tematik.
Temuan menunjukkan akar konflik bersumber dari kegagalan kaderisasi yang memunculkan banalitas kejahatan, fanatisme, dan fetisisme simbol. Sementara itu, strategi pemolisian kolaboratif terbukti baru menghasilkan pseudo-stabilitas (kestabilan semu). Klaim penurunan kejahatan menjadi bias akibat tingginya dark number, code of silence, serta rapuhnya kontrol elit di tingkat akar rumput.
Kesimpulannya, konflik ini merupakan produk degradasi nilai struktural, sedangkan strategi pemolisian saat ini masih terlalu elitis. Polri disarankan menghentikan skema keadilan restoratif pada kekerasan komunal demi penegakan hukum zero tolerance, serta merekonstruksi pembinaan melalui sublimasi agresi dan pelibatan tokoh pemuda secara langsung di tingkat desa
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis metasintesis kualitatif terhadap 30 literatur utama (2020-2025). Menggunakan Teori Konflik, Teori Evidence-Based Policy, Konsep Systematic Review, Konsep Metasintesis Kualitatif, Konsep Disrupsi Sosial dan Konsep Harkamtibmas. Data diekstraksi, dievaluasi menggunakan instrumen Critical Appraisal Skills Programme (CASP), lalu dianalisis dengan teknik sintesis tematik.
Temuan menunjukkan akar konflik bersumber dari kegagalan kaderisasi yang memunculkan banalitas kejahatan, fanatisme, dan fetisisme simbol. Sementara itu, strategi pemolisian kolaboratif terbukti baru menghasilkan pseudo-stabilitas (kestabilan semu). Klaim penurunan kejahatan menjadi bias akibat tingginya dark number, code of silence, serta rapuhnya kontrol elit di tingkat akar rumput.
Kesimpulannya, konflik ini merupakan produk degradasi nilai struktural, sedangkan strategi pemolisian saat ini masih terlalu elitis. Polri disarankan menghentikan skema keadilan restoratif pada kekerasan komunal demi penegakan hukum zero tolerance, serta merekonstruksi pembinaan melalui sublimasi agresi dan pelibatan tokoh pemuda secara langsung di tingkat desa
:: Perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK)
LONTAR 4 :: Library Automation and Digital Archive


