Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi kegagalan sistemik model pemolisian represif dalam menangani fenomena Pak Ogah di Jakarta, yang justru melahirkan siklus "kucing kucingan". Riset ini bertujuan mendekonstruksi Pak Ogah sebagai bentuk urban disorder akibat kekosongan otoritas negara (vacuum of authority). Fokus penelitian mencakup tiga pertanyaan utama: konstruksi sosial Pak Ogah, implikasi eksistensinya terhadap tata kelola keamanan di Jakarta Utara dan Timur, serta strategi pemolisian prospektif.