Abstrak
Transformasi becak kayuh menjadi becak motor (bentor) di Yogyakarta memunculkan dilema tata kelola keamanan dan transportasi. Di satu sisi, bentor merupakan bentuk adaptasi ekonomi masyarakat; namun di sisi lain, operasionalnya melanggar aturan lalu lintas dan berada dalam wilayah abu-abu regulasi (grey area). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika bentor sebagai transportasi budaya, mengidentifikasi faktor keberlangsungannya, serta mengkaji implementasi pemolisian masyarakat dalam penanganannya.